BERITA UTAMAPENDIDIKANSEJARAH

Raja Malik bin Raja Hamzah Ungkap Fakta Sejarah Berkait Tun Amin Mengaku Keturunan Hang Tuah

376
×

Raja Malik bin Raja Hamzah Ungkap Fakta Sejarah Berkait Tun Amin Mengaku Keturunan Hang Tuah

Sebarkan artikel ini
Budayawan dan Sejarawan Melayu Raja Malik bin Raja Hamzah, Ketua Yayasan Melayu Indera Sakti Pulau Penyengat, Tanjungpinang, Kepri

REGIONAL NEWS.ID, TANJUNGPINANG – Sejarawan dan Budayawan, Raja Malik bin Raja Hamzah, sekaligus Ketua Yayasan Kebudayaan Melayu Indera Sakti Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, menceritakan menyimpan banyak khazanah intelektual dalam bentuk kitab-kitab lama, jurnal dan lain sebagainya.

Berbagai peninggalan sejarah masih tersimpan rapi banyak dijadikan berbagai kalangan sebagai sumber dan rujukan ketika ingin mengkaji tentang sejarah dan budaya Melayu Kepri.

Berapa hari lalu membaca tajuk berita beberapa media sosial tentang pihak yang mengaku sebagai waris hang tuah berasal daripada Bintan, bahkan tentang keberadaan makam hang tuah katanya di Bintan. 

Ia mengatakan bahwa mendapatkan maklumat tentang barang-barang dan senjata yang dikatakan adalah peninggalan hang tuah berada di Bintan.

Sebab itu, saya perlu memberikan sedikit penjelasan yang mungkin boleh dipakai untuk pertimbangan dan kajian riset selanjutnya.

Katanya dua tahun lalu pernah membuat video tentang keberadaan makam hang tuah di Bintan. Waktu itu saya diajak rekan akrab saya bernama Muhammad Amin yang tinggal di Bintan, dimana sekarang mengaku sebagai waris ke-11 hang tuah dari Bintan.

Waktu itu saya diajak berziarah ke makam yang dikatakan sebagai makam hang tuah. Waktu itu pengetahuan saya sangat minim tentang hal itu, boleh dikatakan tidak ada.

Semasa kecil sekitar usia saya 7 sampai 8 tahun, sering dibawa almarhum ayah saya ke Bintan, Almarhum Raja Hamzah Yunus untuk berziarah dan terkadang pergi ke orang-orang untuk bertanya tentang sejarah.

Masa itu saya tidak pernah mendapatkan maklumat atau informasi tentang keberadaan makam hang tuah. Saya membuat video ketika itu adalah untuk mengulas kebenaran fakta sejarah yang dikatakan Muhammad Amin dan masyarakat sekitarnya, dan video itu sekarang viral beredar dimana-mana.

Setelah pulang berziarah dari makam hang tuah waktu itu, saya tidak berpuas hati, akhirnya saya melakukan penyelidikan sendiri tentang keberadaan makam hang tuah yang konon katanya berada di Bintan.

Singkat cerita, setelah melakukan proses kajian dan penelitian, berdasarkan beberapa sumber, saya lantas mengambil kesimpulan bahwa makam hang tuah yang katanya di Bintan sumbernya hanya dari beberapa orang saja. 

Bahkan saya menguji kebenaran informasi tersebut dengan masyarakat sekitar Mereka bahkan tidak mengetahui tentang hal itu. Artinya maklumat itu bukanlah memori kolektif masyarakat Bintan, tetapi hanya diceritakan beberapa orang saja.

Membaca laporan penelitian ilmiah yang pernah dilakukan di pulau Bintan, misalnya, buku Tufat Al Nafis Raja Ali Haji, Buku Belanda di Johor dan Siak, kemudian berdasarkan penelitian ilmiah Muhammad Affan tahun 1943 disitu memberikan maklumat cukup lengkap tentang masyarakat Bintan, suku-suku maupun tentang sejarahnya.

Selanjutnya berdasarkan penelitian Arkeologis yang dilakukan Badan Arkeologi Nasional tahun 1980, penelitian yang dilakukan mister muhammad affan berjudul Distrik Van Bintan, adalagi penelitian yang ditaja oleh Dr Vivien Lee, rekan saya dari Singapura tahun 1983, dan kajian-kajian ilmiah lain yang berhasil saya kumpulkan.

Dari sekian banyak riset dan penelitian, tidak ada satupun yang melaporkan bahwa ada wujud makam hang tuah di Bintan.

Diantara nara sumber, informan utama penelitian diatas adalah seorang yang bernama Bidin atau disebut Penghulu Bidin.

Penghulu Bidin ini adalah kerabat dekat Muhammad Amin dimana sekarang mengaku sebagai waris hang tuah ke-11 dari Bintan. Bidin dalam wawancara pernah mengatakan, transkripnya masih saya pegang.

Dalam wawancaranya, ketika ditanya tentang hang tuah, Bidin hanya menjawab menurut orang-orang tua, hang tuah berasal dari Bintan, tapi dia tidak mengetahui dimana makamnya dan keberadaan anak cucunya. Ini jawaban Penghulu Bidin tahun 1981.

Berdasarkan kajian diatas, saya berkesimpulan makam hang tuah itu hanyalah cerita baru yang timbul 10 tahun terakhir, kemudian dipublikasi oleh M Amin dan kawan-kawan.

Menurut hemat saya, perlu melalui kajian lebih dalam dan menyeluruh sehingga kita tidak boleh memutuskan satu pendapat yang salah.

Khawatir seandainya makam hang tuah yang diklaim berada di Bintan ternyata salah maka akan membuat malu Bintan, membuat malu kepulauan riau, bahkan indonesia.

Masih berkenaan dengan kawan saya Muhammad Amin, sekarang namanya sudah berubah menjadi Tun Amin membuat pengakuan sebagai waris ke-11 hang tuah daripada Bintan.

Menurut saya, hal itupun muskil, seharusnya kita lebih berhati-hati, dan harus pula melakukan kajian lebih dalam serta menyeluruh agar mempercayai tentang siapa mengaku siapa.

Seandainya ada orang Bintan mengaku sebagai waris hang tuah maka harus bisa menunjukkan bukti dalam bentuk silsilah yang sahi.

Sebagai perbandingan, saya mengajak berfikir kepada orang ramai. Saya sebagai Raja Malik bin Raja Hamzah adalah waris ketujuh daripada Raja Haji Fisabilillah yang makamnya ada di pulau Penyengat.

Kemudian saudara saya, kakak saya yang juga adalah waris ketujuh sudah mempunyai cucu, artinya sudah wujud keturunan Raja Haji Fisabilillah waris ke sembilan bahkan kesepuluh.

Jarak tahun kehidupan Raja Haji dengan masa saat ini tidak sampai 300 tahun. Kalau dihitung daripada tahun kematian Raja Haji 1784 maka hanyalah berkisar sekitat 246 tahun, beliau sudah memiliki generasi ke-10.

Bayangkan hang tuah yang masa hidupnya diperkirakan hampir 600 tahun lalu, lantas ada orang mengklaim bahwa mereka adalah waris ke 11, tentu informasi itu lagi-lagi mesti harus melalui kajian.

Kemudian tentang barang-barang pusaka yang didatangkan daripada Bintan sebagai barang-barang yang katanya milik hang tuah. Kemudian viral dimana-mana, dan informasi inipun penting melalui kajian secara mendalam dan menyeluruh

Karena kedua barang seperti keris kuning itu, saya tahuvsiapa pemiliknya, bahkan sering melihat dan memegangnya di Tanjungpinang.

Dulu, kedua benda itu pernah ditanya siapa pemiliknya, waktu itu katanya bukan milik hang tuah, namun sekarang informasi tentang keris itu berubah menjadi miliknya hang tuah.

Selanjutnya tentang Sundang Bugis yang juga dikatakan milik hang tuah,  sebenarnya Sundang itu ada dua, satu Sundang jantan dan satulagi betina.

Sayapun pernah melihat Sundang itu, bahkan ada kawan yang pernah membuat videonya. Satu dibawa ke Malaka dan satulagi masih tersimpan di Bintan.

Berdasarkan maklumat yang diberikan kepada kami, Sundang itu adalah turun temurun dari datuk moyang yang dirampas dari Lanon, bahkan benda itupun sudah dikatakan menjadi Sundang miliknya hang tuah.

Menceritakan fakta sejarah yang saya lakukan bukanlah untuk menggagalkan atau tidak suka dengan seseorang atau pihak manapun.

Tujuan membuat penjelasan kajian sejarah adalah semata-mata untuk menegakkan fakta sejarah sebenarnya jauh lebih penting daripada ha lainnya.

Memberikan informasi tentang fakta sejarah bukan untuk mencari popularitas, atau untuk mencari uang. Karena menyampaikan fakta sejarah jauh lebih penting, hal itu merupakan tanggung jawab kita semua.

Saya berharap semoga kita tidak mengidap amnesia sejarah, yaitu orang yang lupa dengan masa lalu. Apabila hal itu sampai terjadi maka hanya akan menjadi sejarawan atau budayawan yang gagap.

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *