BERITA UTAMA

Aksi Demo di Kantor UNHCR Ricuh! Imigran Afganistan Bentrok dengan Warga

280
×

Aksi Demo di Kantor UNHCR Ricuh! Imigran Afganistan Bentrok dengan Warga

Sebarkan artikel ini

REGIONAL NEWS.ID.TANJUNGPINANG – Kericuhan sempat pecah antara warga dengan imigran asal Afganistan di depan Kantor Perwakilan Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi atau The United Nation High Commisioner for Refugees (UNHCR), Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, Rabu (23/3/2022).

Peristiwa ini bermula saat warga mendatangi ratusan pengungsi yang sedang berunjuk rasa di depan UNHCR, beruntung aparat kepolisian yang berada di lokasi unjuk rasa terlihat berupaya memisahkan kelompok warga dengan kelompok pengungsi.

Warga beralasan mendatangi lokasi unjuk rasa imigran karena merasa pengungsi sudah sangat meresahkan. Saat melakukan longmarch, pengungsi menghalangi kelancaran lalu lintas. Bahkan menyebabkan beberapa pengendara sepeda motor terjatuh.

Seorang warga, Heri mengatakan para pengungsi sangat berlebihan memakai badan jalan. Hal ini menghalangi pengguna jalan lain. “Masyarakat yang buru-buru untuk bekerja, menjemput anak, berbelanja jadi terhalang.

Berapa banyak warga yang dihalangi. Ada juga motor yang jatuh karena ditendang,” terang Heri. Karena itu warga meminta agar para pengungsi dapat menghargai masyarakat pengguna jalan lainnya.

“Kami akan menghargai saudara kami pengungsi menuntut haknya. Silahkan saja mau kesini beberapa kali. Tapi jangan ganggu fasilitas umum untuk masyarakat. Hanya itu pinta kami. Tidak ada yang lain,” sebut warga lainnya.

Sementara seorang warga yang sempat terjatuh, Suwandi Widodo mengatakan dirinya ditendang pengungsi di sekitaran kawasan jalan Ganet.

“Saya dari belakang mereka mau motong. Tapi tiba-tiba motor saya ditendang,” ungkap Suwandi.

Karena kejadian itu sepeda motor Honda Vario bernomor polisi BP 3705 BM milik Suwandi mengalami kerusakan di bagian body. “Saya ke sini mau minta ganti. Lihat ini motor saya jadi begini,” ujar dia sambil menunjuk bagian depan sepeda motornya.

Kapolsek Tanjungpinang Timur, AKP Syafrudin yang ikut melakukan pengamanan aksi membenarkan adanya sepeda motor warga yang terjatuh karena iring-iringan pengungsi.

“Mereka memakan badan jalan. Tadi ada yang terjatuh di daerah Ganet,” kata Syafrudin.

Ratusan pengungsi yang melakukan unjuk rasa merupakan warga negara Afghanistan yang berada di Community House Bhadra Resort Bintan.

Mereka berjalan kaki belasan kilometer melewati jalan raya, dari lokasi penampungan di Kabupaten Bintan menuju Kota Tanjungpinang.

Aksi unjuk rasa dikawal oleh aparat kepolisian.

Tujuan unjuk rasa adalah untuk mempertanyakan kelanjutan nasib mereka kepada Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi atau The United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR).

Mereka mendesak UNHCR untuk segera memberangkatkan mereka ke negara ketiga. Di sepanjang jalan mereka berorasi menggunakan pengeras suara.

“We want justice. Kami minta keadilan,” teriak seorang orator. Beberapa diantaranya juga membawa spanduk-spanduk yang berisikan tuntutan dan curhatan, diantaranya seeking asylum is equal to death in Indonesia (mencari suaka sama dengan mati di Indonesia).

Spanduk lainnya bertuliskan UNHCR & IOM! stop killing refugees gradually (UNHCR dan IOM! Berhenti membunuh pengungsi secara bertahap) dan SOS 10 years is enough (SOS 10 tahun sudah cukup) dan 14 pengungsi sudah bunuh diri.

Kalimat-kalimat tuntutan juga tertulis di baju yang mereka pakai. “Kami tidak menginginkan untuk bekerja dan hidup di Indonesia. Kami berempati atas perhatian pemerintah dan rakyat Indonesia.

Kami anggap rakyat indonesia saudara,” kata seorang pengungsi yang sudah bisa berbahasa Indonesia. Menanggapi insiden yang terjadi antara mereka dan warga, seorang pengungsi mengatakan tidak menginginkan hal tersebut.

“Kami tidak mengharapkan apa yang terjadi di jalan. Sejak enam bulan kami unjuk rasa baru ini aksi kami terhalang. Tiba-tiba ada orang yang muncul dan melarang kami. Dilarang boleh, tapi jangan dipukul,” ujar pengungsi itu lagi. Sekira pukul 13.45 WIB, unjuk rasa berakhir.

Mereka tidak dapat menemui petugas UNHCR dan dengan pengawalan petugas kepolisian mereka kembali ke rumah penampungan. (R)

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *